Friday, 3 January 2014
Tikarpun Membekas di Tubuhnya
Dikisahkan oleh sayyidina Umar ra.: "Suatu hari aku berkunjung kerumah Rasulullah, dan mendapati beliau sedang tiduran di atas sebuah tikar, kemudian aku duduk, dan ternyata Rasulullah hanya mengenakan sepotong kain, tidak ada yang lain yang menempel ditubuhnya, dan ternyata, serat-serat tikar membekas ditubuhnya, dan aku hanya menemukan segenggam gandum yang mungkin hanya satu sha', dan sebuah wadah dari kulit yang tergantung.
Tak terasa air mataku meleleh. Dan Rasulullahpun berkata: "apa yang membuatmu menangis wahai Ibnu al-Khattab?".
"wahai Nabiyallah, bagaimana aku tidak menangis, sedangkan tikar ini telah membekas di tubuhmu, dan ini harta simpananmu, aku tidak melihat yang lainnya kecuali yang telah aku lihat, sedangkan mereka; Persia dan Roma dilimpahi buah-buahan dan aliran sungai, dan engkau Nabi Allah, orang pilihan-Nya dan ini simpananmu?" akupun menjawab.
"wahai Ibn al-Khattab, apakah kamu tidak suka kita mendapatkan akhirat, sedangkan mereka hanya dunia? Mereka itu hanya sekelompok kaum yang kenikmatannya telah dipercepat di dunia, dan itupun hampir habis, dan kita adalah kaum yang kenikmatannya di akhirkan kelak di akhirat" Nabi menimpali.
***
Subhaanallah...
Shallallah 'ala Habibina al-Musthafa....
Pura-Pura Tidak Mendengar Kentut
Hatim al-asham adalah orang yang sangat sopan dan juga dermawan. Pada
suatu hari datanglah seorang wanita kepadanya untuk meminta sesuatu.
Tanpa disengaja, wanita itu telah mengeluarkan kentut dengan sedikit keras
dihadapan Hatim Al-Asham, maka wanita itupun menjadi salah tingkah,
tetapi Hatim Al Asham adalah orang yang baik, ia mengerti bagaimana perasaan
wanita, tentu wanita ini sangat malu dengan suara kentutnya yg lumayan
keras, jadi Hatim pura-pura tidak mendengar kentut wanita itu.
Hatim Al Asham berkata : “hai, keraskanlah suaramu, karena aku tidak
mendengar apa yg kamu bicarakan”, Hatim berpura-pura tuli agar wanita
itu menyangka bahwa Hatim tidak mendengar kentutnya yang membuat dirinya
malu itu, kemudian wanita itu pun mengulangi ucapannya dengan agak keras
dan Hatim pun menjawabnya denga suara agak keras pula.
Setelah urusan mereka beres, wanita itu pulang dengan gembira dan ia tidak malu lagi dengan suara kentutnya karena ia sudah pastikan bahwa Hatim Al Asham tidak mendengar suara kentutnya.
Semenjak peristiwa itu, dan sampai 15 tahun <selama wanita itu masih hidup>, Hatim Al Asham selalu berpura-pura tuli, dan selama itu pula tidak ada seorangpun yg menceritakan kepada wanita itu bahwa sebenarnya pendengaran Hatim Al Asham masih normal selayaknya orang lain.
Sungguh begitu baik budi pekerti Hatim, sehingga ia rela untuk berpura-pura selama 15 tahun demi menjaga nama baik dan perasaan wanita itu.
Setelah urusan mereka beres, wanita itu pulang dengan gembira dan ia tidak malu lagi dengan suara kentutnya karena ia sudah pastikan bahwa Hatim Al Asham tidak mendengar suara kentutnya.
Semenjak peristiwa itu, dan sampai 15 tahun <selama wanita itu masih hidup>, Hatim Al Asham selalu berpura-pura tuli, dan selama itu pula tidak ada seorangpun yg menceritakan kepada wanita itu bahwa sebenarnya pendengaran Hatim Al Asham masih normal selayaknya orang lain.
Sungguh begitu baik budi pekerti Hatim, sehingga ia rela untuk berpura-pura selama 15 tahun demi menjaga nama baik dan perasaan wanita itu.
Setelah wanita itu meninggal dunia, Hatim Al Asham sudah tidak
berpura-pura tuli lagi, jika ditanya orang lain, dia dapat menjawabnya dengan
mudah, tapi ia selalu mengatakan : “berbicaralah yg keras!”, kata-kata itu
sudah menjadi kebiasaannya, karena sudah 15 tahun lamanya ia selalu
mengucapkan hal itu kepada siapa saja yg menjadi lawan bicaranya.
Semenjak peristiwa itu, maka Hatim diberi gelar AL-ASHAM yang artinya si tuli, jadi Hatim Al-Asham berarti Hatim yang tuli.
Wednesday, 1 January 2014
Meninggalkan Shalat Dengan Sengaja
Dalam kitabnya, Irsyad
al-‘Ibad, Syaikh Zainuddin bin Abdul ‘Aziz ibn az-Zainuddin menceritakan
tentang sosok wanita di zaman Bani Israil yang mendatangi Nabi Musa guna meminta
doa dari beliau, agar kiranya Nabi Musa bersedia berdoa untuk memintakan
ampunan kepada Allah untuk dirinya.
Wanita : “Ya
Nabiyallah, Aku telah melakukan dosa yang sangat besar dan sekarang aku benar-benar ingin
bertaubat. Oleh karenanya, Doakanlah
aku, agar Allah mau mengampuni segala dosa-dosaku dan menerima taubatku”.
Musa : “Apa
dosamu?”.
Wanita : “Wahai
Nabi Allah, Aku telah melakukan Zina dan setelah aku melahirkan, aku membunuh anak
hasil zina itu”.
Musa :
“Pergilah kamu dari desa ini, wahai
Pelacur!!! Jangan sampai Api ‘adzab turun dari langit yang menyebabkan kita
semua terbakar sebab keburukanmu!!!”.
Mendengar
jawaban Nabi Musa, wanita itu menangis histeris, ia pergi dengan hati yang
hancur, kepada siapa lagi ia harus meminta pertolongan agar taubatnya diterima?
Nabi Musa yang menjadi Utusan Allah saja tidak berkenan untuk mendoakan,
apalagi yang lain?
Namun
tiba-tiba, Jibril datang menghampiri Nabi Musa.
Jibril : “Hai
Musa, Allah telah berkata kepadamu, Kenapa engkau menolak wanita yang benar-benar
ingin bertaubat? Hai Musa! Kamu tahu, siapa yang lebih buruk dari pada wanita
itu?”.
Musa : “Memangnya
siapa yang lebih buruk dari pada perempuan itu?”.
Jibril :
“Orang
yang meninggalkan Shalat, Dengan Sengaja!!!”.
Siapapun
Anda, Sebesar apapun dosa anda, Jangan ragu! Allah pasti akan menerima taubat-taubat
anda sekalian. Dengan syarat: Benar-benar
bertaubat dengan mengaku bersalah kepada Allah dan berjanji untuk tidak
mengulanginya lagi. Seperti wanita di atas tadi!
Mari
kita sama-sama membaca istighfar……
Astaghfirullaah al-‘Adziim……
Astaghfirullaah al-‘Adziim……
Astaghfirullaah al-‘Adziim……
Innallaaha Ghofuurur Rochiim……
Subscribe to:
Posts (Atom)

