Hatim al-asham adalah orang yang sangat sopan dan juga dermawan. Pada
suatu hari datanglah seorang wanita kepadanya untuk meminta sesuatu.
Tanpa disengaja, wanita itu telah mengeluarkan kentut dengan sedikit keras
dihadapan Hatim Al-Asham, maka wanita itupun menjadi salah tingkah,
tetapi Hatim Al Asham adalah orang yang baik, ia mengerti bagaimana perasaan
wanita, tentu wanita ini sangat malu dengan suara kentutnya yg lumayan
keras, jadi Hatim pura-pura tidak mendengar kentut wanita itu.
Hatim Al Asham berkata : “hai, keraskanlah suaramu, karena aku tidak
mendengar apa yg kamu bicarakan”, Hatim berpura-pura tuli agar wanita
itu menyangka bahwa Hatim tidak mendengar kentutnya yang membuat dirinya
malu itu, kemudian wanita itu pun mengulangi ucapannya dengan agak keras
dan Hatim pun menjawabnya denga suara agak keras pula.
Setelah urusan mereka beres, wanita itu pulang dengan gembira dan ia tidak malu lagi dengan suara kentutnya karena ia sudah pastikan bahwa Hatim Al Asham tidak mendengar suara kentutnya.
Semenjak peristiwa itu, dan sampai 15 tahun <selama wanita itu masih hidup>, Hatim Al Asham selalu berpura-pura tuli, dan selama itu pula tidak ada seorangpun yg menceritakan kepada wanita itu bahwa sebenarnya pendengaran Hatim Al Asham masih normal selayaknya orang lain.
Sungguh begitu baik budi pekerti Hatim, sehingga ia rela untuk berpura-pura selama 15 tahun demi menjaga nama baik dan perasaan wanita itu.
Setelah urusan mereka beres, wanita itu pulang dengan gembira dan ia tidak malu lagi dengan suara kentutnya karena ia sudah pastikan bahwa Hatim Al Asham tidak mendengar suara kentutnya.
Semenjak peristiwa itu, dan sampai 15 tahun <selama wanita itu masih hidup>, Hatim Al Asham selalu berpura-pura tuli, dan selama itu pula tidak ada seorangpun yg menceritakan kepada wanita itu bahwa sebenarnya pendengaran Hatim Al Asham masih normal selayaknya orang lain.
Sungguh begitu baik budi pekerti Hatim, sehingga ia rela untuk berpura-pura selama 15 tahun demi menjaga nama baik dan perasaan wanita itu.
Setelah wanita itu meninggal dunia, Hatim Al Asham sudah tidak
berpura-pura tuli lagi, jika ditanya orang lain, dia dapat menjawabnya dengan
mudah, tapi ia selalu mengatakan : “berbicaralah yg keras!”, kata-kata itu
sudah menjadi kebiasaannya, karena sudah 15 tahun lamanya ia selalu
mengucapkan hal itu kepada siapa saja yg menjadi lawan bicaranya.
Semenjak peristiwa itu, maka Hatim diberi gelar AL-ASHAM yang artinya si tuli, jadi Hatim Al-Asham berarti Hatim yang tuli.
No comments:
Post a Comment